Minggu, 11 Oktober 2015

Penyebab gigi berlubang, Nyeri



2.1    Definisi Nyeri

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan lebih banyak orang dibanding suatu penyakit manapun (smeltzer, 2001). Sedangkan the international association for the study of pain (iasp) mendefinisikan nyeri sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan kerusakan jaringan baik aktual maupun potensial atau yang digambarkan dalam kerusakan tersebut. kedua pengertian ini memperjelas bahwa nyeri adalah bagian dari proses patologis.
Nyeri merupakan suatu pengalaman psikis yang normalnya berhubungan dengan kerusakan terhadap jaringan pada  tubuh. Dapat didefinisikan sebagai sensasi ketidakenakan, penderitaan atau kesakitan, yang lebih kurang terlokalisir, yang dihasilkan dari stimulasi akhir-akhiran saraf yang khusus, dianggap sebagai mekanisme protektif sepanjang  ia menyebabkan penderita  memindahkan atau menarik dirinyadari sumber nyeri (Soenarto,1990). Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya(Tamsuri,2007).

   Penyebab dari nyeri dapat berupa:
a)     Mekanik. Rasa nyeri yang diakibatkan oleh mekanik ini timbul akibat ujung-ujung saraf bebas mengalami kerusakan. Contoh dari nyeri akibat trauma mekanik ini adalah akibat adanya benturan, gesekan, luka dan lain-lain.
b)     Thermis. Nyeri karena hal ini timbul karena ujung saraf reseptor mendapat rangsangan akibat panas, dingin, misal karena api dan air.
c)     Khemis. Nyeri yang ditimbulkan karena adanya kontak dengan zat kimia yang bersifat asam atau pun basa kuat.
d)    Elektrik. Nyeri yang ditimbulkan karena adanya pengaruh aliran listrik yang kuat mengenai reseptor rasa nyeri yang menimbulkan kekejangan otot dan luka bakar (Asmadi, 2008).

Kejadian nyeri memiliki sifat yang unik pada setiap individual bahkan jika cedera fisik tersebut identik pada individual lainnya. Adanya takut, marah, kecemasan, depresi dan kelelahan  akan mempengaruhi bagaimana nyeri itu dirasakan. Salah  satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengklasifikasi nyeria dalah berdasarkan durasi (akut,kronik), patofisiologi (nosiseptif, nyerineuropatik) dan etiologi (paskapembedahan, kanker).
MenurutTamsuri(2007), klasifikasi nyeri dibedakan menjadi 4 yaitu:
Klasifikasi nyeri berdasarkan jangka waktu kejadian, nyeri dapat dikelompokan sebagai berikut:
1.    Nyeri akut
Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi dalam waktu kurang dari enam bulan. Umumnya terjadi pada cedera, penyakit akut, atau pembedahan dengan awitan cepat. Dapat hilang dengan sendirinya dengan atau tanpa tindakan setelah kerusakan jaringan sembuh.
2.    Nyeri kronis
Nyeri kronis adalah nyeri yang terjadi dalam waktu lebih dari enam bulan. Umumnya timbul tidak teratur, intermiten, atau bahkan persisten. Nyeri kronis dapat menyebabkan klien  merasa putus asa dan frustasi. Nyeri ini dapat menimbulkan kelelahan mental dan fisik
Klasifikasi nyeri berdasarkan lokasi, nyeri dibedakan menjadi 6 yaitu:
1.    Nyeri superfisial
Biasanya timbul akibat stimulasi terhadap kulit seperti pada laserasi,  lukabakar, dan sebagainya. Memiliki durasi pendek, terlokalisir, dan memiliki sensasi yang tajam.
2.    Nyeri somatik
Nyeri yang  terjadi pada otot dan  tulang  serta struktur penyokong, umumnyabersifat  tumpul dan stimulasi dengan adanya peregangan dan iskemia
3.    Nyeri viseral
Nyeri yang disebabkan kerusakan organ  internal, durasinya  cukup lama,dan sensasi yang timbul biasanya tumpul.
4.    Nyeri sebar (radiasi)
Nyeri sebar (radiasi) adalah sensasi nyeri yang meluas dari daerah asal kejaringan sekitar. Nyeri dapat bersifat intermiten atau konstan.
5.    Nyeri fantom
Nyeri fantom adalah nyeri khusus yang dirasakan oleh klien yang mengalami amputasi.
6.    Nyeri alih
Nyeri alih adalah nyeri yang timbul akibat adanya nyeri viseral yang  menjalar ke organ lain, sehingga dirasakan nyeri pada beberapa tempat atau lokasi.
Klasifikasi nyeri berdasarkan organ
Berdasarkan tempat timbulnya, nyeri dapat dikelompokan sebagai berikut:
1.    Nyeri organik
Nyeri organik adalah nyeri  yang diakibatkan adanya kerusakan organ
2.    Nyeri nurogenik
Nyeri neurogenik adalah nyeri akibat gangguan neuron, misalnya pada neurologi.
3.    Nyeri psikogenik
Nyeri psikogenik  adalah nyeri akibat berbagai faktor psiokologis. Nyeri ini umumnya terjadi ketikaefek-efek psikogenik seperti cemas.

2.3    Mekanisme Nyeri

            Nyeri merupakan suatu bentuk peringatan akan adanya bahayakerusakan jaringan. Pengalaman sensoris pada nyeri akut disebabkan oleh stimulus noksius yang diperantarai oleh sistem sensorik nosiseptif. Sistem  ini berjalan mulai dari perifer melalui medulla spinalis,  batang otak, thalamus dan korteks  serebri. Apabila telah terjadi kerusakan jaringan,maka sistem nosiseptif akan bergeser fungsinya dari fungsi protektif menjadi fungsiyang membantu perbaikan jaringan yang rusak. Nyeri   inflamasi  merupakan  salah  satu   bentuk  untuk   mempercepat perbaikan kerusakan jaringan. Sensitifitas akan meningkat, sehingga stimulus non noksius atau noksius ringan yang mengenai bagian yang meradang akan menyebabkan nyeri. Nyeri inflamasi akan menurunkan derajat kerusakan dan menghilangkan respon inflamasi. Struktur spesifik dalam sistem syaraf  terlibat dalam mengubah stimulus menjadi sensasi nyeri. Sistem yang terlibat dalam transmisi dan persepsi nyeri disebut sebagai sistem noniseptik. Sensivitas dari komponen sistem noniseptik dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor dan berbeda diantara individu. Tidak semua orang yang terpajan terhadap stimulus yang sama mengalami intensitas nyeri yang sama. Sensasi yang sangat nyeri bagi seseorang mungkin hampir tidak terasa bagi orang lain. Lebih jauh lagi, suatu stimulus dapat mengakibatkan nyeri pada suatu waktu tetapi tidak pada waktu lain. Sebagai contoh, nyeri akibat artritis kronis dan nyeri pascaoperatif sering terasa lebih parah pada malam hari (Smeltzer, 2002).
Salah satu neuro modulator nyeri adalah endorfin (morfin endogen), merupakan substansi sejenis morfin yang disuplai oleh tubuh yang terdapat pada otak, spinal dan traktus gastrointestinal yang memberi efek analgesik, pada saat neuron nyeri perifer mengirimkan sinyal ke sinaps, terjadi sinapsis antara nyeri perifer dan neuron yang menuju ke otak tempat seharusnya untuk substansi nyeri, pada saat tersebut endorfin akan memblokir lepasnya substansi nyeri tersebut (Tamsuri, 2007).

PerjalananNyeri (Nociceptive Pathway)
Perjalanan   nyeri  termasuk  suatu  rangkaian  proses   neuro fisiologis kompleks yang disebut sebagai nosiseptif (nociception) yang merefleksikan empat proses komponen yang nyata yaitu transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi, dimana terjadinya stimuli yang kuat diperifer sampai dirasakannya  nyeri di susunan saraf pusat (cortex cerebri).
a.      Proses Transduksi
Proses dimana stimulus noksius diubah ke impuls elektrikal pada ujung saraf. Suatu stimuli kuat (noxionstimuli) seperti tekanan fisik kimia, suhu dirubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf perifer (nerve ending)atau organ-organ tubuh (reseptor meisneri, merkel, corpus culum paccini, golgimazoni). Kerusakan jaringan karena trauma baik trauma pembedahan atau trauma lainnya menyebabkan sintesa prostaglandin, dimana prostaglandin inilah yang akan menyebabkan  sensitisasi dari  reseptor-reseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti histamin, serotonin yang akan menimbulkan   sensasi   nyeri.   Keadaan   ini   dikenal   sebagai   sensitisasi perifer.
b.      Proses Transmisi
Proses penyaluran impuls melalui saraf sensori sebagai lanjutan proses transduks imelalui serabut A-delta dan serabut C dari perifer ke medulla spinalis, dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh tractus spinothalamicus dan sebagian ke traktus spinoretikularis. Traktus spinoretikularis  terutama membawa rangsangan dari organ-organ yang lebih dalam  dan viseral serta berhubungan dengan nyeri yang lebih difus dan melibatkan emosi. Selain itu juga serabut-serabu tsaraf disini mempunyai sinaps interneuron dengan saraf-saraf berdiameter besar dan bermielin. Selanjutnya impuls disalurkan ke thalamus dan somatosensoris di cortex cerebri dan dirasakan sebagai persepsi nyeri.
c.       Proses Modulasi
Proses perubahan transmisi nyeri yang terjadi disusunan saraf pusat (medulla spinalis dan otak). Proses terjadinya interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan input nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinali smerupakan proses ascenden yang dikontrol oleh otak. Analgesik endogen (enkefalin, endorphin, serotonin, noradrenalin) dapat menekan impuls nyeri pada kornuposterior medullaspinalis. Dimana kornuposterior sebagai pintu dapat terbuka dan tertutup untuk menyalurkan impuls nyeri untuk analgesik endogen tersebut. Inilah yang menyebabkan persepsi nyeri sangat subjektif pada setiap orang.
d.      Persepi
Hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dari proses tranduksi, transmisi dan modulasi yangpada akhirnya akan menghasilkan  suatu proses subjektif yangdikenal sebagai persepsi nyeri, yang diperkirakan terjadi pada thalamus dengan korteks sebagai diskriminasi dari sensorik.

2.4  Patofisiologi  Nyeri

Adanya gangguan metabolisme purin dalam tubuh,  intake bahan yang mengandung  asamurat tinggi, dan  sistem ekskresi asamurat yang  tidak adequatakanmenghasilkan akumulasi asamurat yang berlebihan didalam plasma darah (hiperurecemia), sehingga mengakibatkan kristal  asam urat menunpukdalamtubuh.Penimbunan ini menimbulkan iritasiloka ldan menimbulkan respon inflamasi. Hiperurecemia merupakan hasil:
a.  Meningkatnya produksi asamurat akibat metabolisme purine abnormal
b.  Menurunnya ekskresi asamurat
c.  Kombinasi keduanya

2.5  Penatalaksanaan Nyeri

Berbagai tindakan dapat dilakukan oleh perawat untuk mengatasi nyeri. Penatalaksanaan terserbut dibagi 2 yaitu f armakologis dan non farmakologis (Tamsuri,2007).
a.       Penatalaksanaan farmakologis
Terapi obat yang efektif untuk nyeri seharusnya memiliki resiko relatif rendah, tidak mahal, dan omsetnya cepat. WHO menganjurkan tiga langkah bertahap dalam pengguna analagesik. Langkah 1 digunakan untuk nyeri ringan dan sedang adalah obat golongan nonopioid  seperti aspirin,  asetaminofen, atau AINS, ini diberikan tanpa obat tambahan lain. Jika nyeri masih menetap atau  meningkat,  langkah 2 ditambah dengan opioid, untuk nonopioid diberikan dengan atau tanpa obat tambahan lain.Jika nyeri terus-menerus atau intensif, langkah 3 meningkatkan dosispotensi opioid ataud osisnya sementara dilanjutkan nonopioid dan obat tambahan lain(Sudoyo,2006).
b.      Penatalaksanaan non farmakologis
Penatalaksanaan non farmakologis terdiri dari berbagai tidakan penanganan nyeri berdasarkan stimulasi fisik maupun perilaku kognitif (Tamsuri,2007).
·         Masa sekulit
Masa sekulit dapat memberikan efek penurunan  kecemasan dan ketegangan   otot.  Rangsangan  masase  otot  ini  dipercaya  akan merangsang serabut berdiameter besar,sehingga mampu memblok atau  menurunkan implus nyeri.
·         Kompres
Kompers panas dingin, selain menurunkan sensasi nyeri jugadapat meningkatkan  prosrs penyernbuhan jaringan yang mengalami kerusakan.
·         Imobilisasi
Imobilisasi terhadap organ tubuh yang mengalami nyeri hebat mungkin dapat meredakan nyeri. Kasus seperti rheumatoidarthritis mungkin memerlukan teknik untuk mengatas inyeri.
·         Distraksi
Distraksi merupakan pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri. Teknik distraksi terdapat beberapa macam yaitu : distraksi visual distraksi pendengaran ,distraksi pernafasan, distraksi intelektual, teknik pernafasan, imajinasi terbimbing.
·         Relaksasi
Relaksasi otot  rangkadipercayadapat menurunkan nyeri dengan merelaksasikan ketegangan otot yang  mendukung rasa nyeri. Teknik relaksasi mungkin perlu diajarkan beberapa kali agar mencapai hasil yang normal.
·         Plasebo
Plaebo merupakan suatu bentuk tidakan, misalnya pengobatan atau tindakan keperawatan  yang  mempunyai efek pada pasien akibat sugesti dari pada kandungan fisik atau kimianya. Suatuobat yang tidak berisi analgetika tetapi berisi gula, air atau saliner dinamakan  plasebo (Priharjo,1996)

2.6  Penyebab  Gigi Berlubang

Sebuah interaksi dari empat  faktor utama yang bertanggung jawab untuk penyakit multifaktorial ini .
Host ( gigi dan saliva )
• Mikroorganisme dalam bentuk plak gigi
• Substrat ( diet )
Waktu
a.     Host (Gigi dan Saliva)
Kerentanan permukaan gigi dapat mendukung terjadinya karies. Gigi yang memiliki komposisi kekurangan fluor , seng, timah dan kandungan besi enamel berhubungan dengan peningkatan karies. Karakteristik morfologi  gigi yang memiliki daerah yang memudahkan pelakatan plak yaitu pit dan fissure pada permukaan oklusal molar dan premolar, pit bukal molar dan pit palatal insisif, permukaan halus di daerah aproksimal sedikit di bawah titik kontak, email pada tepian di daerah leher gigi sedikit di atas tepi ginggiva, permukaan akar yang terbuka yang merupakan, tepi tumpatan yang kurang atau menggemper san permukaan gigi yang berdekatan dengan gigi tiruan dan jembatan.
Saliva memiliki efek pembersihan pada gigi. Biasanya, 700- 800 ml saliva disekresikan per hari.  Dalam keadaan normal, gigi geligi selalu dibasahi oleh saliva. Karena kerentanan gigi terhadap karies banyak bergantung kepada lingkungannya, maka peranan saliva sangat besar sekali. Saliva mampu meremineralisasikan karies yang masih dini karena banyak sekali mengandung ion kalsium dan fosfat, Kemampuan saliva dalam melakukan remineralisasi meningkat jika ada ion fluor. Selain mempengaruhi komposisi mikroorganisme di dalam plak, saliva juga mempengaruhi pH nya. Karena itu jika aliran saliva berkurang atau menghilang, maka karies mungkin akan tidak terkendali. Pada daerah tepi ginggiva, gigi dibasahi oleh cairan celah gusi walaupun dengan tiadanya inflamasi gingival volume cairan ini bisa dianaikan. Cairan celah gusi mengandung antibody yang didapat dari serum yang spesifik terhadap S.mutans. Keberadaan fluor dalam konsentrasi yang optimum pada jaringan gigi dan lingkungannya merangsang efek anti karies dalam beberapa cara. Kadar F yang bergabung dengan email selama proses pertumbuhan gigi bergantung pada ketersediaan fluor. Email yang mempunyai kadar F lebih tinggi, tidak dengan sendirinya resisten terhadap serangan sam. Akan tetapi, tersedianya F di sekitar gigi selama proses pelarutan email akan mempengaruhi proses remineralisasi dan demineralisasi, teruetama proses remineralisasi. Di samping itu, F memepengaruhi bakteri plak dalam membentuk asam (Joyston,1992).
b.      Mikroorganisme
Streptococcus mutans merupakn bakteri kariogenik karena mampu segera membuat asam dari karbohidrat yang dapat diragikan. Kuman-kuman tersebut dapat tumbuh subur dalam suasana asam dan dapat menempel pada permukaan gigi karena kemampuannya membuat polisakharida ekstra sel yang sangat lengket dari karbohidrat makanan. Polisakharida ini, yang terutama terdiri dari polimer glukkosa, menyebabkan matriks plak gigi mempunyai konsistensi seperti gelatin. Akibatnya bakteri-bakteir  terbantu untuk melekat pada gigi serta saling melekat satu sama lain
c.       Substrat
Makanan yang mengandung karbohidrat adalah pendukung terkadinya karies. Karbohidrat ini menyediakan substrat untuk pembuatan asam bagi bakteri dan sintesa polosakharida ekstra sel. Walaupun demikian tidak semua karbohidart sama derajat kariogeniknya. Karbohidrat yang kompleks misalnya pari relative tidak berbahaya karena tidak dicerna secara sempurna di dalam mulut, sedangkan karbohidrat dengan berat molekul yang rendah seperti gula akan segera meresap ke dalam plak dan dimetabolisme dengan cepat oleh bakteri. Untuk kembalike pH normal sekitar 7, dibutuhkan waktu 30-60 menit. Oleh karenann itu,konsumsi gula yang sering dan berulang-ulang akan tetap menahan pH plak dibawah normal dan menyebabkan demineralisasi email. Makanan yang mengandung Vitamin A, D, K, B kompleks (B6), kalsium, fosfor, fluor, asam amino seperti lisin dan lemak memiliki efek penghambatan pada karies gigi.
d.      Waktu
Adanya kemampua saliva untuk mendepositkan kembali mineral selama berlangsungnya proses karies, menandakan bahawa proses karies tersebut terdiri atas periode perusakan dan perbaikan yang silih berganti. Oleh karena itu bila saliva ada di dalam lingkungan gigi, maka karies tidak menghancurkan gigi dalam hitunagn hari atau minggu, melainkan dalam bulan atau tahun.

Faktor non-etiologi atau factor resiko merupakan faktor-faktor yang pengaruhnya berkaitan dengan terjadinya karies seperti :
1          Pola makan yang salah dimana masyarakat lebih menyukai dan terbiasa menyantap makanan manis, kurang berserat, dan mudah lengket. (Dentino vol 1. No.2 september 2013). Konsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula di antara jam makan dan pada saat makan berhubungan dengan peningkatan karies yang besar. Factor makanan yang dihubungkan dengan terjadinya karies gigi adalah jumlah fermentasi, konsentrasi dan bentuk fisik (bentuk cair, tepung, padat) dari karbohidrat yang dikonsumsi, retensi di mulut, frekuensi makan dan snacks serta lamanya interval waktu makan. Anak yang berisiko karies tinggi sering mengkonsumsi makanan minuman manis di antara jam makan.
2          Fluor merupakan salah satu mineral dalam air yang memiliki efek nyata terhadap kesehatan gigi. Efektivitas fluor ditunjukan melalui kemampuan melindungi daerah yang rentan terserang karies, dengan cara mengurangi kelarutan email oleh asam dan berkaitan dengan matriks enamel gigi Carbonated Hydroxiapatit (Ca10(PO4)6(OH)2 menjadi Carbonated Fluroapatit (Ca10(PO4)6(F)2. Fluoroapatit adalah struktur yang lebih stabil dan kurang larut terhadap asam apabila dibandingkan dengan Hydroxyapatit, sehingga lebih tahan terhadap asam. Kadar fluor dalam air minum yang dianjurkan untuk dikonsumsi masyarakat berkisar antara 1-1,5 ppm. WHO menganjurkan menggunakan antara 0,9-1,1 ppm dan kadar optimum fluor adalah 0,5-1,0 ppm. Hal ini harus diperhatikan, sebab kelebihan mengkonsumsi fluor dapat mengakibatkan fluorosis gigi dan kekurangan mengkonsumsi fluor akan menyebabkan karies gigi. (Dentino vol 1. No.2 September 2013)
3          Demografi (umur, jenis kelamin). Angka karies pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki karena erupsi gigi pada perempuan lebih cepat sehingga lebih lama berada dalam rongga mulut dan lebih banyak terpapar oleh berbagai makanan dan minuman dibandingkan dengan laki-laki. (Dentino vol 1. No.2 september 2013)
4          Pengetahuan terhadap penyakit dan pelayanan kesehatan juga mempengaruhi karena minimnya fasilitas kesehatan gigi di daerah setempat serta kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan membiarkan gigi yang berlubang hingga rusak parah bahkan hanya bersisa akar tanpa memeriksakannya ke dokter gigi ketika kondisi gigi yang rusak masih belum terlalu parah. (Dentino vol 1. No.2 september 2013)
5          Struktur social (lingkungan, tingkat pendidikan) yaitu bahwa prevalensi karies lebih tinggi pada anak yang berasal dari status social ekonomi rendah. Hal ini dikarenakan anak dari status ini makan lebih banyak makanan yang bersifat kariogenik, rendahnya pengetahuan akan kesehatan gigi dapat dilihat dari kesehatan mulut yang buruk, karies tinggi pada keluarga (karies aktif pada ibu), jarang melakukan kunjungan ke dokter gigi sehingga banyak karies gigi yang tidak dirawat.

2.7  Pencegahan Gigi Berlubang

A. Pentingnya Kebersihan Gigi
Kebersihan gigi dan mulut merupakan hal yang sangat penting dalam mencegah dari terjadinya penyakit-penyakit rongga mulut. Jika ditinjau dari segi fungsinya, gigi dan mulut mempunyai peran yang besar dalam mempersiapkan makanan sebelum melalui proses pencernaan yang selanjutnya. Oleh karena gigi dan mulut merupakan salah satu kesatuan dari anggota tubuh yang lain, kerusakan pada gigi dan mulut dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara langsung atau tidak langsung. Selain itu, kebersihan gigi dan mulut juga berperan penting dalam menentukan gambaran dan penampilan diri seseorang tersebut, sekaligus berkaitan dengan kepercayaan atau keyakinan terhadap dirinya. (Pratiwi, 2007).
Menurut World Health Organization (WHO), penyakit rongga mulut yang sering dihadapi oleh anak-anak umumnya adalah penyakit gigi berlubang (dental cavity) atau karies gigi dan penyakit periodontal yaitu penyakit pada penyangga gigi. Kirakira 60-90% anak-anak sekolah di seluruh dunia mengalami karies gigi dan penyakit periodontal dijumpai pada 5-20% usia dewasa muda, walaupun angka kejadiannya sedikit berbeda pada kawasan geografi yang berbeda. Untuk kanker mulut pula, insidensinya diperkirakan antara satu hingga 10 kasus bagi setiap 100 000 populasi di kebanyakan negara di seluruh dunia. (WHO, 2010).
Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi angka penyakit gigi dan mulut yang tinggi saat ini. Menurut SKRT 1995 dan juga Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 1998, masyarakat masih belum mengetahui kepentingan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Hal yang demikian dapat dilihat dari nilai penduduk Indonesia yang tidak menyikat gigi adalah sebanyak 22,8% dan dari 77,2 % yang menyikat gigi tersebut, cuma 8,1 % yang menyikat gigi tepat pada waktunya. Notoatmodjo (2004), juga menjelaskan bahwa penyebab timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat salah satunya adalah faktor perilaku atau sikap mengabaikan kebersihan gigi dan mulut. Perkara ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan anak-anak tentang perawatan gigi dan mulut yang sebenarnya.
Upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut serta pembinaan kesehatan gigi terutama pada kelompok anak sekolah perlu mendapat perhatian khusus karena pada usia ini anak sedang menjalani proses tumbuh kembang. Keadaan gigi sebelumnya akan berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan gigi pada usia dewasa nanti. Bila ditinjau dari berbagai upaya pencegahan karies gigi melalui kegiatan UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah) tersebut seharusnya pada usia-usia anak sekolah dasar memiliki angka karies rendah, akan tetapi dilihat dari kenyataan yang ada dan berdasarkan laporan-laporan penelitian yang telah dilakukan sebagian besar datanya menunjukkan adanya tingkat karies gigi pada anak sekolah yang cukup tinggi (Wahyuningrum,2002).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ling Zhu di Beijing, Cina pada tahun 2003, 44,4% dari anak-anak berusia 12-18 tahun menyikat gigi paling kurang dua kali dalam sehari dan hanya 17% yang menggunakan pasta gigi yang mengandungi florida. (International Dental Journal 2003). Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada 186 murid di Sekolah Dasar Negeri Kleco II Kecamatan Laweyan Kota Surakarta didapatkan data murid yang memiliki gigi berlubang yaitu sekitar 68,3% sedangkan murid yang giginya tidak berlubang yaitu sekitar 31,7%. Sebagian besar murid yang memiliki gigi berlubang mengatakan bahwa mereka kurang mengerti cara menjaga kesehatan gigi dan mulut. (Uji Kawuryan, 2008).



B.     Pencegahan Karies Gigi
   Menjaga kebersihan mulut adalah merupakan cara terbaik untuk mencegah terjadinya penyakit-penyakit dalam mulut, seperti: karies gigi dan radang gusi. Kedua penyakit tersebut merupakan penyakit yang paling sering ditemukan dalam mulut, penyebab utama penyakit tersebut adalah plaque. Beberapa cara pencegahan karies gigi antara lain:
1.      Plaque control
Plaque control merupakan cara menghilangkan plaque dan mencegah akumulasinya. Tindakan tersebut merupakan tingkatan utama dalam mencegah terjadinya karies dan radang gusi. Menurut Wirayuni (2003), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan plaque control, antara lain:
2.      Scalling
Scalling yaitu tindakan membersihkan karang gigi pada semua permukaan gigi dan pemolesan terhadap semua permukaan gigi.
3.      Penggunaan dental floss (benang gigi)
Dental floss ada yang berlilin ada pula yang tidak yang terbuat dari nilon. Floss ini digunakan untuk menghilangkan plaque dan memoles daerah interproximal (celah di antara dua gigi), serta membersihkan sisa makanan yang tertinggal di bawah titik kontak.
4.      Diet
Diet merupakan makanan yang dikonsumsi setiap hari dalam jumlah dan jangka waktu tertentu. Hendaknya dihindari makanan yang mengandung karbohidrat seperti: dodol, gula, permen, demikian pula makanan yang lengket hendaknya dihindari. Adapun yang disarankan dalam plaque control adalah makanan yang banyak mengandung serat dan air. Jenis makanan ini memiliki efek self cleansing yang baik serta vitamin yang terkandung di dalamnya memberikan daya tahan pada jaringan penyangga gigi.
5.      Kontrol secara periodik
Kontrol dilakukan setiap 6 bulan sekali untuk mengetahui kelainan dan penyakit gigi dan mulut secara dini.
6.      Fluoridasi
Fluor adalah suatu bahan mineral yang digunakan oleh manusia sebagai bahan yang dapat membuat lapisan email tahan terhadap asam. Menurut YKGI (1999), penggunaan fluor ada dua macam yaitu secara sistemik dan lokal. Secara sistemik dapat dilakukan melalui air minum mengandung kadar fluor yang cukup, sehingga fluor dapat diserap oleh tubuh. Secara lokal dapat dilakukan dengan diteteskan/dioleskan pada gigi, kumur-kumur dengan larutan fluor dan diletakkan pada gigi dengan menggunakan sendok cetak.
7.      Menyikat gigi
Menyikat gigi ádalah cara yang dikenal umum oleh masyarakat untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan maksud agar terhindar dari penyakit gigi dan mulut. Menurut Manson dan Elley (1993), menyikat gigi sebaiknya dilakukan dengan cara sistematis supaya tidak ada gigi yang terlampaui, yaitu mulai dari posterior ke anterior dan berakhir pada bagian posterior sisi lainnya. Beberapa alat dan bahan yang digunakan dalam menyikat gigi yang baik, antara lain:
1)      Sikat gigi
Sikat gigi yang baik adalah sikat gigi yang mempunyai ciri-ciri, seperti: bulu-bulu sikat lunak dan tumpul, sehingga tidak melukai jaringan lunak dalam mulut. Ukuran sikat gigi diperkirakan dapat menjangkau seluruh permukaan gigi atau disesuaikan dengan ukuran mulut. Dalam memilih sikat gigi, yang harus diperhatikan adalah kondisi bulu sikat. Pilihlah bulu sikat yang terbuat dari nilon karena sifatnya yang elastis (Budiman, 2009).
2)      Pasta gigi
Pasta gigi yang baik adalah pasta gigi yang mengandung fluor, karena fluor akan bereaksi dengan email gigi dan membuat email lebih tahan terhadap serangan asam. Pasta gigi yang mengandung fluor apabila digunakan secara teratur akan dapat mencegah kerusakan gigi. Pasta gigi mengandung bahan abrasif ringan seperti kalsium karbonat dan dikalsium fosfat, tetapi baru sedikit bukti-bukti yang menunjukkan bahwa penggunaan pasta gigi dapat meningkatkan efisiensi pembersihan plaque. Pasta gigi yang mengandung fluorida ternyata sudah terbukti dapat meningkatkan absorpsi ion fluor pada permukaan gigi yang akan menghambat kolonisasi bakteri dari permukaan gigi. Beberapa pasta gigi tentu juga mengandung bahan-bahan kimia seperti formaldehid atau strongsium clorida, yang dapat membantu mengurangi sensitivitas dari akar gigi yang terbuka akibat resesi gingiva (Manson dan Eley, 1993).
3)      Alat bantu menyikat gigi
Menurut Manson dan Elley (1993), beberapa alat bantu yang digunakan untuk membersihkan gigi adalah: benang gigi, tusuk gigi, dan sikat sela-sela gigi. Penggunaan benang gigi akan membantu menghilangkan plaque dan sisa-sisa makanan yang berada di sela-sela gigi dan di bawah gusi. Daerah-daerah tersebut sulit dibersihkan dengan sikat gigi.
4)      Waktu menyikat gigi



Waktu menyikat gigi yang tepat adalah pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Waktu tidur produksi air liur berkurang sehingga menimbulkan suasana asam di mulut. Sisa-sisa makanan pada gigi jika tidak dibersihkan,
maka mulut semakin asam dan kumanpun akan tumbuh subur membuat lubang pada gigi. Sifat asam ini bisa dicegah dengan menyikat gigi (Budiman, 2009).
5)       Teknik menyikat gigi
Menurut Depkes RI (1996), teknik menyikat gigi adalah:
-          Sikatlah semua permukaan gigi atas dan bawah dengan gerakan maju mundur dan pendek-pendek atau atas bawah, sedikitnya delapan kali gerakan setiap permukaan gigi.
-          Permukaan gigi yang menghadap ke bibir disikat dengan gerakan naik turun.
-          Permukaan gigi yang menghadap ke pipi disikat dengan gerakan naik turun agak memutar.
-          Permukaan gigi yang digunakan untuk mengunyah disikat dengan gerakan maju mundur.
-          Permukaan gigi yang menghadap ke langit-langit atau lidah disikat dengan gerakan dari arah gusi ke permukaan gigi.
-          Setelah permukaan gigi selesai disikat, berkumur satu kali saja agar sisa fluor masih ada pada gigi.
-          Sikat gigi dibersihkan di bawah air mengalir air dan disimpan dengan posisi kepala sikat gigi berada di atas.

C.     Hasil Diskusi Tutorial
Pencegahan Karies gigi
·         Memeriksa gigi secara rutin
·         Menjaga kebersihan mulut
·         Menyikat gigi minimal 2x sehari
·         Pemakaian dental floss
·         Menyikat gigi secara teratur dan pada waktu yang tepat

·         Menyikat gigi dengan cara yang benar.
·         Kumur setelah makan
·         Gunakan benang gigi untuk mengeluarkan sisa makanan
·         Pilih pasta gigi yang mengandung fluorida
·         Makan makanan yang berserat
·         Kurangi makanan yang mengandung gula dan tepung
·         Pemeriksaan rutin setiap 6 bulan sekali

D.    Pencegahan Lain
Pencegahan karang gigi
1. Menjaga kebersihan oral dengan cara menyikat gigi dua kali sehari, dapat mencegah pembentukan plak pada permukaan email gigi.
 2. Bersihkan sisa-sisa makanan dari sela-sela gigi dengan menggunakan benang gigi (dental floss) atau sikat interdental
3. Perbanyak minum air putih
4. Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung gula dan tepung.
5. Melakukan pemeriksaan gigi secara berkala, 6 bulan sekali.

Pencegahan penyakit gusi :
Mencegah penyakit gusi melibatkan mengendalikan jumlah plak dan tartar yang terbentuk pada gigi Anda. Kunjungan Reguler ke dokter gigi atau ahli kesehatan, menyikat gigi dan flossing gigi Anda dengan benar dan berhenti merokok akan membantu untuk melakukan hal ini.
Dokter gigi atau ahli kesehatan dapat menunjukkan kepada Anda cara yang benar untuk kuas, benang dan menggunakan sikat antar-gigi. sikat gigi antar-digunakan untuk menghilangkan plak dan partikel makanan dari sela gigi dan di bawah garis gusi. Ini adalah daerah yang sikat gigi tidak dapat mencapai.
Bahkan menyeluruh menyikat gigi dan flossing tidak dapat menghapus setiap jejak plak. Kebanyakan orang memiliki penyimpangan dalam plak gigi mereka di mana bisa membangun di luar jangkauan dan mengeras menjadi tartar. Hal ini hanya dapat dihapus oleh dokter gigi atau ahli kesehatan selama scaling.
Pencegahan Sariawan
Dengan mengetahui penyebabnya, diharapkan kita dapat menghindari timbulnya sariawan ini, diantaranya dengan menjaga kebersihan rongga mulut serta mengkonsumsi nutrisi yang cukup, terutama yang mengandung vitamin B12 dan zat besi. Juga selain itu, jangan lupa untuk menghindari stress. Namun bila ternyata sariwan selalu hilang timbul, anda dapat mencoba dengan kumur-kumur air garam hangat dan pergi ke dokter gigi untuk meminta obat yang tepat untuk sariawannya.

2.8 Perawatan Gigi Berlubang

Cara perawatan gigi berluang dapat melakukan dental health education. Pada tahap awal pembentukan lubang gigi oleh asan, dapat diperbaiki dengan melakukan perawatan topical fluoride. Apabila kariesnya sudah mengenai email/ dentin maka dilakukan restorasi atau penambalan, dalam kondisi pulpitis reversible dapat dilakukan pulp capping dan tumpatan. Apabila pulpitis irreversible atau nekrosis maka dilakukan perawatan endodontic dan restorasi. Namun apabila kerusakan jaringan gigi tidak bisa di restorasi maka gigi tersebut harus dicabut.
 
A.    Penambalan Gigi
Penambalan gigi tehadap gigi yang berlubang sebaiknya dilakukan sedini mungkin sebelum kelainannya menjadi lebih berat lagi. Apabila penambalan dilakukan sedini mungkin, kunjungan ke dokter gigi menjadi lebih sedikit, dalam artian sekali datang bisa langsung dilakukan penambalan langsung. Apabila kelainannya sudah lebih berat, maka gigi tersebut harus dilakukan perawatan terlebih dahulu sehingga memerlukan kunjungan yang lebih banyak. Pada saat sekarang ini jenis bahan tambal sudah lebih baik lagi, baik dari segi kekuatan atau pun kemiripan bahan tambal dengan warna gigi, sehingga gigi yang sudah ditambal tidak terlihat telah ditambal.
Macam-macam bahan tambal gigi menurut Joyston (1992):
a.       Resin Komposit
Tambalan komposit merupakan campuran bahan kuarsa dengan resin yang menghasilkan tambalan yang berwarna seperti gigi, bahkan dapat meniru warna transparan email. Ada salah kaprah yang berkembang di masyarakat, bahwa tambalan komposit adalah tambalan LASER. Yang benar adalah sinar halogen yang berwarna biru digunakan untuk membantu proses pengerasan komposit. Tambalan komposit yang kecil ataud sedang dapat bertahan terhadap tekanan kunyah. Perlekatan tambalan komposit pada dinding lubang gigi sangat baik. Selain itu tidak banyak struktur gigi yang harus diambil untuk menambalkan komposit pada lubang gig
b.      Amalgam
Amalgam merupakan campulan beberapa logam, yaitu air raksa, perak, seng, tembaga dan beberapa logam lainnya. Amalgam sangat bermanfaat untuk merestorasi gigi geraham karena kemampuannya menahan beban kunyah yang besar. Amalgam mudah ditambalkan ke lubang yang sulit dikeringkan, seperti lubang di bawah tepi gusi. Selain itu, jarang muncul reaksi alergi terhadap bahan amalgam.  Segi buruk amalgam adalah warnanya yang keperakan sehingga secara estetik tidak menarik, apalagi kalau digunakan di gigi depan. Kadangkala juga muncul sedikit rasa sensitif terhadap panas atau dingin setelah gigi ditambal amalgam
c.       Glass Ionomer
Glass ionomer atau Ionomer kaca melepaskan sejumlah kecil fluoride yang bermanfaat bagi pasien yang berisiko tinggi terhadap karies.  Sedikit struktur gigi yang diambil untuk menyiapkan gigi yang akan ditambal ionomer kaca. Karena mudah pecah, bahan ini tidak dapat digunakan untuk menambal gigi belakang yang digunakan untuk mengunyah. Ionomer resin terbuat dari bubuk kaca dan asam akrilik dan resin akrilik. Digunakan untuk menambal lubang yang sangat kecil pada bagian gigi yang tidak menanggung beban kunyah, karena mudah patah.

B.     Endodontik (Perawatan Saluran Akar)
Mahkota gigi terdiri dari lapisan keras gigi yakni email dan dentin. Kedua lapisan keras gigi ini melindungi  jaringan lunak gigi yang disebut pulpa yang memanjang dari mahkota sampai ujung akar gigi . Jaringan lunak pulpa terdiri dari pembuluh darah dan pembuluh syaraf yang menyuplai makanan dan memberikan rasa pada gigi. Perawatan saluran akar dilakukan dengan cara mengangkat jaringan pulpa yang mengalami radang atau terinfeksi. Jaringan pulpa dapat mengalami peradangan atau infeksi karena adanya karies (keropos) gigi yang dalam,tambalan yang sangat dalam sehingga mengiritasi saluran pulpa, gigi pecah/patah sampai mendekati saluran pulpa karena trauma, atau kadang karena peradangan gusi yang sudah parah. Kerusakan jaringan pulpa dapat ditandai dengan rasa nyeri, sensitif yang berlangsung lama saat makan/minum panas atau dingin,diskolorasi gigi,pembengkakan gusi. Kadangkala tanpa keluhan sama sekali. Dan bila kondisi ini dibiarkan maka akan menimbulkan nyeri dan bengkak serta kerusakan tulang penyangga gigi.
Penatalaksanaan Perawatan Saluran Akar
            Langkah pertama adalah pengambilan jaringan pulpa yang terinfeksi. Kadang dilakukan anestesi,apabila gigi masih vital atau rasa nyeri yang berlebihan. Pembukaan akses dari mahkota ke ruang pulpa dilakukan untuk membuang jaringan pulpa yang terinfeksi. Dengan menggunakan instrumen khusus, saluran akar dibersihkan dan dibentuk agar dapat ditutup dengan bahan pengisi saluran akar. Kotoran di dalam saluran akar dikelurkan dengan cara menyemprot saluran dengan cairan anti bakteri. Saluran akar akan diisi dengan bahan pengisi saluran akar. Tambalan sesudah perawatan gigi dapat berupa resin komposit,crown atau onlay dengan atau tanpa post/pasak tergantung dari sisa jaringan keras gigi yang tersisa agar tidak patah/pecah saat berfungsi  
 Perawatan saluran akar dapat dilakukan sekali kunjungan atau lebih tergantung dari kondisi gigi. Apabila diperlukan, selama antar kunjungan,saluran akar akar diberi obat/medikasi untuk sterilisasi saluran akar dan lubang ditutup dengan tambalan sementara. Pengambilan radiograf seringkali diperlukan untuk menentukan panjang akar dan memonitor tahap-tahap perawatan saluran akar. Selama perawatan,hindari menggigit makanan keras di daerah gigi yang sedang dirawat untuk menghindari gigi pecah/retak kecuali gigi dilindungi dengan mahkota sementara. Gigi yang telah dirawat,relatiflebih rapuh dari gigi vital,oleh karena itu restorasi gigi yang sesuai dengan kondisi gigi harus segera dilakukan. Pemeliharaan kebersihan gigi seperti sikat gigi dan flossing pada gigi paska perawatan saluran akar tetap harus dilakukan untuk menghindari infeksi ulang dan melakukan pemeriksaan berkala tiap 6 bulan secara teratur (Combe,1992).

C.     Pencabutan Gigi
Pengertian Pencabutan Gigi
Pencabutan gigi merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari alveolus.Pencabutan gigi juga merupakan operasi bedah yang melibatkan jaringan bergerak dan jaringan lunak dari rongga mulut, akses yang dibatasi oleh bibir dan pipi, dan selanjutnya dihubungkan atau disatukan oleh gerakan lidah dan rahang. Definisi pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi utuh atau akar gigi dengan trauma minimal terhadap jaringan pendukung gigi, sehingga bekas pencabutan dapat sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah prostetik di masa mendatang. Tindakan pencabutan gigi perlu dilaksanakan prinsip-prinsip keadaan suci hama (asepsis) dan prinsip-prinsip pembedahan (surgery). Pencabutan lebih dari satu gigi secara bersamaan tergantung pada keadaan umum penderita serta keadaan infeksi yang ada ataupun yang mungkin akan terjadi (Newman,2002).

Indikasi Pencabutan Gigi
Gigi di cabut untuk berbagai alasan, misalnya karena sakit gigi itu sendiri, sakit pada gigi yang mempengaruhi jaringan di sekitarnya, atau letak gigi yang salah.
Di bawah ini adalah beberapa contoh indikasi dari pencabutan gigi:
a. Karies parah
Alasan paling umum dan yang dapat diterima secara luas untuk pencabutan gigi adalah karies yang tidak dapat dihilangkan. Sejauh ini gigi yang karies merupakan alasan yang tepat bagi dokter gigi dan pasien untuk dilakukan tindakan pencabutan.
b. Nekrosis pulpa
Berkaitan erat dengan pencabutan gigi adalah adanya nekrosis pulpa atau pulpa irreversibel yang tidak diindikasikan untuk perawatan endodontik. Dengan kondisi ini, perawatan endodontik yang telah dilakukan ternyata gagal untuk menghilangkan rasa sakit sehingga diindikasikan untuk pencabutan.
c. Penyakit periodontal yang parah
Jika periodontitis dewasa yang parah telah ada selama beberapa waktu, maka akan nampak kehilangan tulang yang berlebihan dan mobilitas gigi yang irreversibel. Dalam situasi seperti ini, gigi yang mengalami mobilitas yang tinggi harus dicabut.
d. Alasan orthodontik
Pasien yang akan menjalani perawatan ortodonsi sering membutuhkan pencabutan gigi untuk memberikan ruang untuk keselarasan gigi.
e. Gigi impaksi
Tindakan bedah pengangkatan gigi impaksi merupakan salah satu tindakan bedah yang sering dikerjakan oleh dokter gigi ahli bedah mulut,tindakan bedah pengangkatan gigi impaksi memerlukan persiapan yang baik dan rencana operasi yang tepat untuk menghindari komplikasi yang tidak diinginkan
 

Blogger news

Blogroll